SELAMAT DATANG DI TEROPONG PENGETAHUAN SEARCH yang kamu cari

Rabu, 27 April 2011

Makalah Agama islam-taubat nasuha

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1. Arti Taubat Nashuha

Makna Taubat menurut pengertian bahasa ialah kembali. Maksudnya ialah kembali pulang mengikuti jalan yang benar dengan meninggalkan jalan yang sesat. Allah SWT, berfirman yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan Taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukan kamu kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai”.(QS. At-Tahrim : 8)

Ayat diatas merupakan seruan kepada orang-orang yang beriman agar kembali kepada Allah dari perbuatan-perbuatan dosa dengan Taubat yang benar-benar murni dan tulus, yaitu dengan niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan maksiat itu kembali, sesudah menyesalatas perbuatan yang terlanjur dilakukan. Sebab Taubat yang Nashuha akan menghapus dosa dan memasukannya kedalam surga.

Ubay bin Ka’ab Ra. Mengatakan, “Kami telah diberitahu bahwa akan terjadi pada umat ini saat mendekati hari kiamat yaitu :

1. Orang yang berhubungan badan dengan istri atau budaknya pada dubur,

2. Pelacuran sesama wanita. Haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul-Nya.

3. Pelacuran sesama laki-laki. Inipun haram hukumnya dimurka oleh Allah dan Rasul-Nya.

Mereka ini tidak diterima shalatnya terkecuali dengan bertaubat yang nashuha.

Zir bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Apakah taubat nashuha itu?”

Jawab Ubay, “Saya telah bertanya kepada Nabi SAW, dan beliau bersabda, ‘menyesal atas dosa yang diperbuat, lalu meminta ampun kepada-Nya dan tidak akan mengulangi perbuatan itu untuk selama-lamanya’.”

Ditanya Umar tentang taubat nashuha. Ia menjawab “Taubat Nashuha itu adalah tidak kembali kepada perbuatan dosa sebagaimana tidak kembalinya air susu pada payudara ibu yang menyusui anaknya”.

Para Ulama bersepakat, yang dimaksud Taubat Nashuha itu terdiri dari tiga syarat, yaitu :

1. Menghentikan Maksiat.

2. Menyesal atas perbuatan yang terlanjur dilakukan.

3. Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan itu kembali. Dan apabila dosa yang dilakukan berhubungan dengan manusia, maka taubatnya ditambah dengan syarat keempat, yaitu :

4. Menyelesaikan urusan dengan orang yang berhak.

Salah satu nama surat dalam Al-Qur’an ialah At-Taubah (Pengampunan). Surat kesembilan ini dikenal pula dengan nama Bara’ah, yang artinya berlepas diri. Maksudnya, sebagian besar pokok pembicaraan surat ini tentang pernyataan berlepas dirinya orang-orang yang beriman terhahadap orang-orang musyrik yang diwujudkan dengan jihad melawan mereka sebagai bukti taubat yang nashuha. Dan, disinilah tampak jelas bahwa hakikat taubat yang sebenarnya senantiasa menuntut pelakunya berlepas diri secara totalitas terhadap segala sesuatu yang mempersekutukan Allah SWT, sebagai akidah orang yang bertaubat.

2. Taubat Itu Hijrah

Keterkaitan Taubat dengan Hijrah adalah laksana ruh di dalam jasad. Tiada arti ruh tanpa jasad dan tiada arti jasad tanpa ruh. Keberadaan keduanya itulah hidup dan perpisahannya adalah maut.

Arti Hijrah berasal dari bahasa Arab, yang artinya meninggalkan suatu perbuatan, ataubberpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Adapun arti Hijrah menurut syari’at ada tiga macam, yaitu :

Pertama : Hijrah dari semua perbuatan yang dilarang oleh Allah ke perbuatan yang tidak dilarang oleh Allah. Hijrah ini adalah diharuskan dikerjakan oleh tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama islam. Nabi SAW telah bersabda yang artinya : “Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala yang Allah telah melarang daripadanya.”(diriwayatkan Al-Bukhary dan lainnya dari shahabat Abdullah bin Umar Ra.).

Jadi, siapa saja dari orang-orang Islam, telah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah, maka ia termasuk daripada orang yang mengerjakan hijrah yang pertama.

Kedua : Hijrah (mengasingkan) diri dari pergaulan orang-orang musyrik atau orang-orang kafir yang memfitnah orang-orang yang telah memeluk agama islam. Maka hijrah ini adalah diharuskan juga dikerjakan tiap-tiap orang islam karena untuk menjauhi fitnah-fitnah dari orang-orang musyrik dan kafir yang memusuhi islam. Yang pada prinsipnya dapat dipergunakan untuk mengerjakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya. Dizaman Nabi SAW hijrah ini pernah dikerjakan oleh kaum muslimin, yakni hijrah sebagian kaum Muslimin diwaktu itu ke Negeri Habsyi sampai terjadi dua kali.

Ketiga : Hijrah (berpindah) dari negeri atau daerah orang-orang kafir atau musyrik ke negeri atau daerah orang-orang muslimin. Seperti hijrah Nabi SAW dan kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa saja syarat-syarat Taubat Nashuha ?

2. Apa saja macam-macam Taubat

BAB II

PEMBAHASAN

Empat Syarat Taubat Nashuha

1. Syarat Pertama : Menghentikan Maksiat

Untuk memenuhi syarat yang pertama ini sangat diperlukan sikap bara’ah (sikap tegas yang disertai tindakan berlepas diri atau pemutusan hubungan dari segala perkara yang dapat menimbulkan perbuatan maksiat). Karena mana mungkin seseorang dikatakan telah bertaubat dengan sebenar-benarnya bila masih bertoleransi dan berhubungan baik dengan kemaksiatan. Perbuatan semacam ini merupakan pernyataan berloyalitas pada jalan-jalan syaitan dan syiar-syiarnya. Bukan saja tertolak taubatnya, bahkan lambat laun menyeret pelakunya kepada kekufuran. Diantara ciri-ciri orang yang menghentikan maksiat, ialah sebagai berikut :

1. Mencampakan Sifat Sombong

Segala kemegahan dan kenikmatan dunia seringkali membuat orang lupa dan sombong, hingga tercatatlah ia dalam golongan orang-orang yang sombong. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Dan apabila dikatakan kepadanya : ‘bertaqwalah kepada Allah’, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahanam. Dan sesungguhnya neraka Jahanam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya”. (QS. Al-Baqarah : 206)

“Tiga orang yang pada hari kiamat tidak akan diampuni dan tidak akan dilihat dengan pandangan rahmat Allah dan untuk mereka tetap disediakan siksa yang pedih. Pertama, orang tua renta yang berzina; kedua, raja pendusta; dan ketiga, orang melarat yang sombong”. (Diriwayatkan Muslim)

Untuk itu hendaklah setiap orang yang ingin bertaubat dengan sebenar-benarnya mencampakan jauh-jauh sifat sombong. Tiada satu kemaksiatan pun dapat dihentikan bila sifat ini masih ada di hati seorang muslim.

2. Hijrah

Taubat yang dapat menghentikan maksiat harus disertai dengan hijrah. Simaklah berita dari Abu Said Al-Khudry Ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Dahulu pada umat-umat yang terdahulu, terjadi seseorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertaubat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukan pada sorang pendeta, maka ia bertanya, ‘saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertaubat ?’ Jawab pendeta,’ maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian mencari orang alim lainnya, dan ketika telah ditunjukan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan untuk bertaubat ?Jawab si Alim, ya ada, dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertaubat ? pergilah ke dusun itu karena disana banyak orang yang taat kepada Allah, maka berbuatlah sebagaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat’. Maka pergilah orang itu. Tatkala dalam perjalanan ia meninggal dunia. Maka bertengkarlah Malaikat Rahmat, ‘ia telah berjalan untuk bertaubat kepada Allah dengan sepenuh hatinya’. Berkata Malaikat Siksa, ‘ia belum penah berbuat kebaikan sama sekali’. Maka datanglah seorang malaikat berupa manusia dan dijadikannya sebagai juri (hakim) diantara mereka. Maka ia berkata’. Ukur saja antara dua dusun yang yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebih dekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana.’ Kemudian diukur, dan didapatkan lebih dekat kepada dusun baik yang ditujunya, kira-kira sejengkal, maka dipegang ruhnya oleh Malaikat Rahmat.” (Diriwayatkan Al-Bukhary dan Muslim).

Dari hadits di atas, jelas bahwa hijrahnya si Pembunuh dari negerinya yang penuh kemaksiatan dan orang-orangnya yang jahat ke dusun yang banyak orang-orang baik, menjadi jawaban diterima taubatnya si pembunuh tadi.. Sekalipun ia belum pernah berbuat kebaikan. Dan disini terlihat pula peran niat ikhlas karena Allah sebagai Aqidah orang-orang yang bertaubat sekalipun hijrahnya belum sampai kedusun yang dituju,- maka telah tetap pahalanya disisi Allah.

3. Tidak Berputus Asa dari Rahmat Allah

Orang yang bertaubat tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Semestinya orang yang bertaubat dan bertekad menghentikan kemaksiatannya memiliki sikap optimis terhadap Allah SWT. Allah SWT, berfirman yang artinya :

“katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan lah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. (QS. Az-Zumar : 53).

Dari Anas Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Telah berfirman Allah Ta’ala, ‘wahai Anak Adam ! Selagi engkau meminta dan berharap daripada-Ku, maka Aku akan ampunkan apa-apa dosa yang telah terlanjur dan tidak Aku perdulikan lagi. Wahai Anak Adam ! walaupun sampai dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku beri ampunan kepadamu. Wahai Anak Adam ! Jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan yang lain dengan Aku, niscaya Aku datang padamu dengan ampunan sepenuh bumi pula’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy dan ia berkata ini hadits hasan shahih).

Tapi banyak orang berkeyakinan bahwa dosanya tidak akan diampuni oleh Allah dan dirinya hanya layak menjadi bahan bakar api neraka. Yang pada akhirnya dia berputus asa untuk bertaubat dan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

4. Tidak berprasangka buruk kepada Allah

Tidak mungkin dapat menghentikan kemaksiatan seseorang yang berprasangka buruk kepada Allah. Karena sebagian prasangka adalah dosa yang menjerumuskan kepada fitnah. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12).

Bagaimana pula kiranya seseorang yang ingin bertaubat dan menghentikan kemaksiatanya berprasangka buruk kepada Allah. Bukankah akan tertolak taubatnya.

Dari jabir bin Abdillah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “janganlah mati salah satu dari kamu, melainkan dalam keadaan baik sangka kepada Allah azza wa jalla.”

Sudah semestinya orang yang mau bertaubat dan menghentikan kemaksiatannya berbaik sangka kepada Allah. Karena pada dasarnya sangka Allah mengikuti sangka hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Allah telah berfirman, ‘Aku selalu mengikuti sangka hamba-Ku......’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

2. Syarat Kedua : Menyesal Atas Perbuatan Yang Terlanjur Dilakukan

Ini adalah syarat taubat nashuha yang kedua. Bukan dinamakan taubat bila rasa penyesalan atas suatu perbuatan dosa yang dilakukan saja tidak ada. Dan, bagaimana pula akan menghentikan kemaksiatan dan sadar untuk bertaubat ? karena itu rasa penyesalan termasuk syarat taubat yang nashuha.

Adapun ciri-ciri orang yang menyesal atas kemaksiatan yang terlanjur dilakukannya ialah sebagai berikut :

1. Melafadzkan Taubat dan Berdo’a

Penyesalan selain terletak di hati juga harus dilafadzkan dengan lisan. Pelafadzan akan menguatkan hati dan memeliharanya dengan janji yang telah diikrarkan dihadapan Allah. Dan Istighfar adalah lafadz bagi orang-orang bertaubat yang berisikan do’a-do’a memohon ampunan kepada Allah Ta’ala. Sedemikian pentingnya kedudukan pelafadzan istighfar sampai-sampai Rasulullah setiap hari melakukan sebanyak tujuh puluh hingga seratus kali.

Dari Abu Hurairah Ra. Bahwa Rasulullah bersabda yang artinya :

“Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepada Allah tiap hari lebih dari tujuh puluh kali.” (Diriwayatkan Al-Bukhary).

2. Tidak Menangguhkan Taubat

Ciri lain orang yang menyesal atas kemaksiatan yang dilakukan ialah tidak menangguhkan taubat, tapi menyegerakannya. Bila taubat ditangguhkan terlihattiada kesungguhan. Penangguhan disebabkan oleh keraguan sedang penyegeraan dikarenakan takut dan penyesalan. Allah SWT berfirman yang artinya :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (Ali Imran : 133).

3. Mengganti Keburukan Dengan Kebaikan

Penyesalan baru terlihat nyata setelah si Pelakunya mengadakan perbaikan. Sesal atas kemaksiata yang melekat di hati dan dikuatkan dengan lafadz taubat, baru terbukti dengan praktek amal shaleh sebagai langkah mengadakan perbaikan. Allah SWT berfirman yang Artinya :

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 70).

3. Syarat Ketiga : Niat Sungguh-sungguh Tidak Mengulangi Perbuatan Itu Kembali

Syarat ketiga taubat nashuha ini pun memiliki ciri-ciri yang menunjukan bahwa seseorang berniat bersungguh-sungguh tidak mengulangi kemaksiatannya setelah bertaubat. Diantara ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

1. Wara’ (berhati-hati)

Sikap berhati-hati termasuk perkara yang dapat membentengi taubat dari kerusakan akibat mengulangi perbuatan maksiatnya kembali. Keberadaan wara’ bagi orang yang bertaubat menjadi pemelihara dan motor penggerak aktivitas-aktivitas ibadah sebagai manifestasi taubat yang nashuha menuju tingkat muttaqin. Dari Athiyah bin Urwah Assa’dy Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “seorang hamba tidak dapat mencapai tingkat muttaqin, hingga meninggalkan apa-apa yang tidak berdosa, karena khawatir terjerumus pada apa yang berdosa.” (Diriwayatkan At-Tirmidzy).

2. Menganjurkan Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran

Niat sungguh-sungguh tidak mengulangi perbuatan dosa, juga terlihat dari adanya kemauan yang kuat dari orang yang bertaubat menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran kepada orang lain. Ini adalah wujud pernyataan dirinya perang secara terbuka terhadap segala kemungkaran yang ia penah terjerumus kedalamnya dan telah merasakan langsung kemudharatannya. Kembalinya orang yang bertaubat ialah dengan mengikuti jalan Allah.

3. Menyadari Ujian Sebagai Peringatan Agar Bertaubat

Banyak orang-orang yang bertaubat cepat merasa puas dan menganggap dirinya telah bersih. Mereka lupa bahwa syaitan tidak pernah berputus asa menjerumuskan manusia ke lembah dosa hanya dengan menggunakan satu umpan. Boleh jadi taubat seseorang atas suatu perbuatan dosa mencapai tingkat nashuha dan tidak dilakukannya lagi; tetapi itu bukan berarti ia telah bebas sepenuhnya dan lolos begitu saja dengan umpan-umpan syaitan lainnya dengan tingkat godaan yang lebih berat. Taubat terakhir dari keimanan, sedang keimanan tidak diakui sebelum mengalami ujian.

4. Syarat Keempat : Menyelesaikan Urusan dengan Orang Yang Berhak

Syarat taubat keempat ini harus ditunaikan apabila perbuatan dosa yang dilakukan melanggar hak manusia. Seperti mencuri barang milik orang lain, berhutang yang tidak dilunasi, ghibah, mencaci maki, mengolok-olok, sumpah palsu, ingkar janji, merusak nama baik orang, menyakiti badan, dan segala perkara dosa yang terkait dengan hak manusia. Selain harus melakukan tiga syarat taubat sebelumnya, maka orang yang melakukan perbuatan dosa yang berhubungan dengan hak manusia harus melengkapi taubatnya dengan syarat keempat ini. Ada-pun cara menyelesaikan urusan dengan orang yang dilanggar haknya adalah :

1. Mengembalikan Apa Yang Harus Dikembalikan

2. Meminta Ma’af Atau Halalnya Kepada Orang Yang Dilanggar Haknya

Allah berfirman yang artinya :

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud : 3)

Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya :

“Siapa yang merusak nama baik atau harta benda orang lain, maka minta ma’aflah kepadanya sekarang ini, sebelum datang hari dimana mata uang tidak berlaku lagi. Kalau ia mempunyai amal baik, sebagian dari amal baiknya itu akan diambil sesuai dengan kadar aniaya yang telah dilakukannya. Kalau ia tidak mempunyai amal baik, maka dosa orang lain itu diambil dan ditambahkan kepada dosanya.”*(Diriwayatkan Al-Bukhary) *(dosa orang yang dilanggar haknya akan ditimpakan kepada orang yang melanggarnya).

Selain menunjukan pentingnya minta ma’af, hadits diatas berisikan pula ancaman atas mereka yang enggan meminta ma’af atau halalnya orang yang telah dilanggar haknya.

Macam-macam Taubat

Dalam hal ini Imam Ghazali membagi taubat menjadi tiga tingkatan yaitu :

1. Taubat Orang Awam, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa yang nyata atau kelihatan seperti dosa berzina, mencuri, korupsi, membunuh, minum-minuman keras, dan lainnya.

2. Taubat Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa-dosa batin atau tidak kelihatan mata seperti dengki, riya’, ujub, takabur, dan lainnya. Sikap-sikap ini secara langsung tidak diketahui oleh orang lain. Namun demikian, akibat sikap ini bisa dirasakan oleh pihak lain.

3. Taubat Lebih Khusus, taubat ini dilakukan atas dosa/kasalahan lalai mengingat Allah. Taubat inilah yang dimaksudkan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan : “Aku beristighfar dan bertaubat lebih dari 70 kali dalam sehari”. (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari).



BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Taubat merupakan ruh dan jasadnya adalah hijrah. Karena hijrah manifestasi dari taubat.

2. Orang yang mengembalikan secara totalitas fitrah dirinya selaku insan kepada Allah selaku pencipta, Al-Khalik. Dengan kata lain, tidak mempersekutukan Allah dengan segala sesuatunya. Maka konsekwensinya, ia akan menjadi hamba yang rela, puas, dan taat diatur dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Sudah barang tentu ia pula yang menjadipemelihara dan pembela bagi agama Allah yang setia darigangguan apapun yang akan merusak fitrah manusia dari penghambaan kepada Khaliknya.

3. Hijrah adalah manifestasi taubat nashuha. Dengan hijrah hidup fitrah dimulai, praktek-praktek amal shaleh didukung dan para pelanggarnya ditindak dengan hukum Allah yang universal ditegakkan.

4. Niat ikhlas adalah syarat pokok semua ibadah yang diterima disisi Allah SWT. tidak dikatakan seseorangf melakukan taubat yang nashuha bila telah rusak niatnya.

5. Berniat yang bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi maksiat yang pernah dia lakukan.

6. Macam-macam Taubat menurut Imam Ghazali dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu, Pertama : Taubat Orang Awam, Kedua : Taubat Khusus, Ketiga : Taubat Lebih Khusus.

Alhamdulillah, dengan pertolongan-Nya akhirnya penulisan makalah yang berjudul “Taubat Nashuha” ini bisa selesai. Karena itu, diharapkan kita bisa merealisasi diri dan bersegera bertaubat kepada allah Ta’ala sebelum terlambat. Wassalam.

(Kelompok 3_kelas 1a_matematika)

DAFTAR PUSTAKA

v Amin, Mubin Ahmad.2002. “Empat Syarat Taubat Nashuha”.Jakarta : Darul Falah.

v Rahardjo, M. Dawan.2002. “Ensiklopedi Al-Qur’an”. Yogyakarta : Paramadina.

v Chalil, KH. Moenawar.1993. “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Jakarta : PT. Bulan Bintang.

v Al-Afifi, Thoha Abdullah.1994. “Tobat”. Surabaya : Risalah Gusti.

v www.google.com

Daftar hari penting di Indonesia

Hari Raya
Yang tidak tercantum tanggalnya berarti setiap tahun diperingati berubah-ubah tanggalnya.

* Idul Adha (Islam)
* Tahun Baru Hijriyah dan Hari Santri (kalender Islam dan Jawa)
* Tahun Baru Imlek (kalender Tionghoa)
* Nyepi (Hindu)
* Maulid Nabi Muhammad SAW (Islam)
* Jumat Agung (Kristen)
* Waisak (Buddha)
* Kenaikan Yesus Kristus (Kristen)
* 17 Agustus : Hari Kemerdekaan RI
* Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW (Islam)
* Idul Fitri (Islam)

Januari

* 1 Januari: Tahun baru Masehi
* 1 Januari: Hari Perdamaian Dunia
* 5 Januari: Hari Korps Wanita Angkatan Laut
* 15 Januari: Hari Peristiwa Laut dan Samudera
* 25 Januari: Hari Gizi dan Makanan
* 25 Januari: Hari Kusta Internasional

Februari

* 5 Februari: Hari Peristiwa Kapal Tujuh
* 9 Februari: Hari Kavaleri
* 14 Februari: Hari Peringatan Pembela Tanah Air (PETA)
* 20 Februari: Hari Pekerja Nasional[rujukan?]
* 22 Februari: Hari Istiqlal
* 28 Februari: Hari Gizi Nasional Indonesia

Maret

* 1 Maret : Hari Kehakiman Nasional
* 1 Maret : Hari Peringatan Serangan Umum di Yogyakarta
* 6 Maret : Hari Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad)
* 8 Maret : Hari Wanita/Perempuan Internasional
* 9 Maret : Hari Musik Nasional
* 10 Maret : Hari Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi)
* 11 Maret : Hari Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar)
* 21 Maret : Hari Sindrom Down[rujukan?]
* 22 Maret : Hari air sedunia[rujukan?]
* 23 Maret : Hari Meteorologi Sedunia
* 24 Maret : Hari Peringatan Bandung Lautan Api
* 27 Maret : Hari Klub Wanita Internasional (bahasa Inggris: Women International Club Day - WIC)
* 29 Maret : Hari Filateli Indonesia
* 30 Maret : Hari Film Nasional

April

* 1 April : Hari Bank Dunia
* 6 April : Hari Nelayan Nasional
* 7 April : Hari Kesehatan Internasional
* 9 April : Hari Penerbangan Nasional
* 9 April : Hari TNI Angkatan Udara
* 15 April : Hari Zeni (?)
* 16 April : Hari Komando Pasukan Khusus (Kopassus)
* 18 April : Hari Peringatan Konferensi Asia Afrika
* 19 April : Hari Pertahanan Sipil (Hansip)
* 21 April : Hari Kartini
* 22 April : Hari Bumi
* 23 April : Hari Buku
* 24 April : Hari Angkutan Nasional
* 24 April : Hari Solidaritas Asia-Afrika
* 27 April : Hari Permasyarakatan Indonesia

Mei

* 1 Mei : Hari Peringatan Pembebasan Irian Barat
* 1 Mei : Hari Buruh Sedunia
* 2 Mei : Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)
* 3 Mei : Hari Surya
* 5 Mei : Hari Lembaga Sosial Desa (LSD)
* 8 Mei : Hari lahir Henry Dunant - bapak Palang Merah Sedunia
* 11 Mei : Hari POM - TNI (?)
* 15 Mei : Hari Korps Resimen Mahadjaya/ Jayakarta (Menwa Jayakarta)
* 17 Mei : Hari Buku Nasional
* 19 Mei : Hari Korps Cacat Veteran Indonesia
* 20 Mei : Hari Kebangkitan Nasional atau Harkitnas (sejak tahun 1908)
* 21 Mei : Hari Peringatan Reformasi
* 29 Mei : Hari Keluarga
* 31 Mei : Hari Anti Tembakau Internasional

Juni

* 1 Juni : Hari Lahir Pancasila
* 1 Juni : Hari Anak-anak Sedunia
* 3 Juni : Hari Pasar Modal Indonesia
* 5 Juni : Hari Lingkungan Hidup Sedunia
* 15 Juni: Hari Demam berdarah Dengue ASEAN[1]
* 17 Juni : Hari Dermaga
* 29 Juni : Hari Skateboad Sedunia
* 22 Juni : Hari Ulang Tahun Kota Jakarta (sejak tahun 1507)
* 24 Juni : Hari Bidan Nasional
* 26 Juni : Hari Anti Narkoba Sedunia
* 29 Juni : Hari Keluarga Berencana Nasional
* 29 Juni : Hari Keluarga

Juli

* 1 Juli : Hari Bhayangkara
* 1 Juli : Hari Anak-Anak Indonesia
* 1 Juli : Hari Buah
* 5 Juli : Hari Bank Indonesia
* 9 Juli : Hari Satelit Palapa
* 12 Juli : Hari Koperasi
* 15 Juli : Hari PT. Askes (Persero)
* 22 Juli : Hari Kejaksaan
* 23 Juli : Hari Anak Nasional
* 23 Juli : Hari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)
* 29 Juli : Hari Bhakti TNI Angkatan Udara
* 31 Juli : Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati

Agustus

* 5 Agustus : Hari Dharma Wanita Nasional
* 8 Agustus : Hari Ulang Tahun ASEAN
* 10 Agustus : Hari Veteran Nasional
* 12 Agustus : Hari Wanita TNI Angkatan Udara (Wara)
* 13 Agustus : Hari Peringatan Pangkalan Brandan Lautan Api
* 14 Agustus : Hari Pramuka
* 17 Agustus : Proklamasi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (sejak tahun 1945)
* 18 Agustus : Hari Konstitusi Republik Indonesia (sejak tahun 1945)
* 19 Agustus : Hari Departemen Luar Negeri Indonesia
* 21 Agustus : Hari Maritim Nasional

September

* 1 September : Hari Polisi Wanita (Polwan)
* 8 September : Hari Aksara
* 8 September : Hari Pamong Praja
* 9 September : Hari Olahraga Nasional
* 11 September : Hari Radio Republik Indonesia (RRI)
* 17 September : Hari Perhubungan Nasional
* 24 September : Hari Tani
* 26 September : Hari Statistik
* 27 September : Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT)
* 28 September : Hari Kereta Api
* 29 September : Hari Sarjana Nasional
* 30 September : Hari Peringatan Gerakan 30 September 1965

Oktober

* 1 Oktober : Hari Kesaktian Pancasila
* 2 Oktober : Hari Batik
* 2 Oktober : Susu Nasional
* 3 Oktober : Hari Arsitektur Dunia-World Architecture Day UIA
* 5 Oktober : Hari Tentara Nasional Indonesia (TNI)
* 8 Oktober : Hari Tata Raung Nasioanl
* 9 Oktober : Hari Surat Menyurat Internasional
* 10 Oktober : Hari Kesehatan Jiwa
* 15 Oktober : Hari Hak Asasi Binatang
* 16 Oktober : Hari Parlemen Indonesia
* 16 Oktober : Hari Pangan Sedunia
* 24 Oktober : Hari Dokter Nasional
* 24 Oktober : Hari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
* 27 Oktober : Hari Penerbangan Nasional
* 27 Oktober : Hari Listrik Nasional
* 27 Oktober : Hari Blogger Nasional
* 28 Oktober : Hari Sumpah Pemuda
* 29 Oktober : Hari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI)
* 30 Oktober : Hari Keuangan

November

* 3 November : Hari Kerohanian
* 10 November : Hari Pahlawan
* 10 November : Hari Ganefo
* 12 November : Hari Kesehatan Nasional
* 14 November : Hari Brigade Mobil (BRIMOB)
* 14 November : Hari Diabetes Sedunia
* 21 November : Hari Pohon
* 22 November : Hari Perhubungan Darat
* 25 November : Hari Guru

Desember

* 1 Desember : Hari AIDS Sedunia
* 4 Desember : Hari Artileri
* 3 Desember : Hari Cacat
* 9 Desember : Hari Armada
* 10 Desember : Hari Hak Asasi Manusia
* 12 Desember : Hari Transmigrasi
* 13 Desember : Hari Kesatuan Nasional
* 15 Desember : Hari Infanteri[rujukan?]
* 19 Desember : Hari Bela Negara
* 22 Desember : Hari Ibu
* 22 Desember : Hari Sosial
* 22 Desember : Hari Korps Wanita Angkatan Darat (KOWAD)

Hari raya dari luar negeri yang ada dirayakan di Indonesia

* 14 Februari : Hari Valentine

Indonesia Raya

ndonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni.

Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia mem[p]roklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Indonesia Raya dimainkan pada upacara bendera. Bendera Indonesia dinaikkan dengan khidmat dan gerakan yang diatur sedemikian supaya bendera mencapai puncak tiang bendera ketika lagu berakhir. Upacara bendera utama diadakan setiap tahun pada tanggal 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara ini dipimpin oleh Presiden Indonesia.

Sejarah

Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.

Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan.[1] Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.

Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.[2]
[sunting] Naskah pada koran Sin Po (1928)

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Marcia [3], Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).
[sunting] Aransemen simfoni Jos Cleber (1950)

Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.
[sunting] Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)

Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan Addie MS[4].
[sunting] Lirik asli, ejaan 1958, dan EYD
[sunting] Lirik asli (1928)

INDONESIA RAJA[1]

I

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
"Indonesia Bersatoe".


Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg'rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
"Indonesia Bahagia".


Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
"Indonesia Bersatoe"


S'lamatlah rajatnja,
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

[sunting] Lirik resmi (1958)

INDONESIA RAJA[5]

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Disanalah aku berdiri,
Djadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.


Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rajatku, sem'wanja,
Bangunlah djiwanja,
Bangunlah badannja,
Untuk Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang mulia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanja,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.


Suburlah tanahnja,
Suburlah djiwanja,
Bangsanja, Rajatnja, sem'wanja,
Sadarlah hatinja,
Sadarlah budinja,
Untuk Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang sutji,
Tanah kita jang sakti,
Disanalah aku berdiri,
Ndjaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang aku sajangi,
Marilah kita berdjandji,
Indonesia abadi.


S'lamatlah rakjatnja,
S'lamatlah putranja,
Pulaunja, lautnja, sem'wanja,
Madjulah Neg'rinja,
Madjulah pandunja,
Untuk Indonesia Raja.

Refrain

Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku jang kutjinta!
Indonesia Raja,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raja.

[sunting] Lirik modern

INDONESIA RAYA[6]

I

Indonesia tanah airku,
Tanah tumpah darahku,
Di sanalah aku berdiri,
Jadi pandu ibuku.

Indonesia kebangsaanku,
Bangsa dan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu.


Hiduplah tanahku,
Hiduplah neg'riku,
Bangsaku, Rakyatku, semuanya,
Bangunlah jiwanya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya.

II

Indonesia, tanah yang mulia,
Tanah kita yang kaya,
Di sanalah aku berdiri,
Untuk s'lama-lamanya.

Indonesia, tanah pusaka,
P'saka kita semuanya,
Marilah kita mendoa,
Indonesia bahagia.


Suburlah tanahnya,
Suburlah jiwanya,
Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,
Sadarlah hatinya,
Sadarlah budinya,
Untuk Indonesia Raya.

III

Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
N'jaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.


S'lamatlah rakyatnya,
S'lamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Neg'rinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Refrain

Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Tanahku, neg'riku yang kucinta!
Indonesia Raya,
Merdeka, merdeka,
Hiduplah Indonesia Raya.

Indonesia

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.508 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara).[5] Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006,[6] Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Etimologi

Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "pulau".[7] Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat.[8] Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu".[9] Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India.[10] Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indië), atau Hindia (Indië); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).[5]

Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik.[5] Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), yaitu ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau di tahun 1913.[8]

Sejarah

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Indonesia

Peninggalan fosil-fosil Homo erectus, yang oleh antropolog juga dijuluki "Manusia Jawa", menimbulkan dugaan bahwa kepulauan Indonesia telah mulai berpenghuni pada antara dua juta sampai 500.000 tahun yang lalu.[11] Bangsa Austronesia, yang membentuk mayoritas penduduk pada saat ini, bermigrasi ke Asia Tenggara dari Taiwan. Mereka tiba di sekitar 2000 SM, dan menyebabkan bangsa Melanesia yang telah ada lebih dahulu di sana terdesak ke wilayah-wilayah yang jauh di timur kepulauan.[12] Kondisi tempat yang ideal bagi pertanian, dan penguasaan atas cara bercocok tanam padi setidaknya sejak abad ke-8 SM,[13] menyebabkan banyak perkampungan, kota, dan kerajaan-kerajaan kecil tumbuh berkembang dengan baik pada abad pertama masehi. Selain itu, Indonesia yang terletak di jalur perdagangan laut internasional dan antar pulau, telah menjadi jalur pelayaran antara India dan Cina selama beberapa abad.[14] Sejarah Indonesia selanjutnya mengalami banyak sekali pengaruh dari kegiatan perdagangan tersebut.[15]
Sejak abad ke-1 kapal dagang Indonesia telah berlayar jauh, bahkan sampai ke Afrika. Sebuah bagian dari relief kapal di candi Borobudur, k. 800 M.

Di bawah pengaruh agama Hindu dan Buddha, beberapa kerajaan terbentuk di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa sejak abad ke-4 hingga abad ke-14. Kutai, merupakan kerajaan tertua di Nusantara yang berdiri pada abad ke-4 di hulu sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Di wilayah barat pulau Jawa, pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M berdiri kerajaan Tarumanegara. Pemerintahan Tarumanagara dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda dari tahun 669 M sampai 1579 M. Pada abad ke-7 muncul kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi, Sumatera. Sriwijaya mengalahkan Malayu dan muncul sebagai kerajaan maritim yang paling perkasa di Nusantara. Wilayah kekuasaannya meliputi Sumatera, Jawa, semenanjung Melayu, sekaligus mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Cina Selatan.[16] Di bawah pengaruh Sriwijaya, antara abad ke-8 dan ke-10 wangsa Syailendra dan Sanjaya berhasil mengembangkan kerajaan-kerajaan berbasis agrikultur di Jawa, dengan peninggalan bersejarahnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan. Di akhir abad ke-13, Majapahit berdiri di bagian timur pulau Jawa. Di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada, kekuasaannya meluas sampai hampir meliputi wilayah Indonesia kini; dan sering disebut "Zaman Keemasan" dalam sejarah Indonesia.[17]

Kedatangan pedagang-pedagang Arab dan Persia melalui Gujarat, India, kemudian membawa agama Islam. Selain itu pelaut-pelaut Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho (Zheng He) yang beragama Islam, juga pernah menyinggahi wilayah ini pada awal abad ke-15.[18] Para pedagang-pedagang ini juga menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara. Samudera Pasai yang berdiri pada tahun 1267, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Ketika orang-orang Eropa datang pada awal abad ke-16, mereka menemukan beberapa kerajaan yang dengan mudah dapat mereka kuasai demi mendominasi perdagangan rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat di dua pelabuhan Kerajaan Sunda yaitu Banten dan Sunda Kelapa, tapi dapat diusir dan bergerak ke arah timur dan menguasai Maluku. Pada abad ke-17, Belanda muncul sebagai yang terkuat di antara negara-negara Eropa lainnya, mengalahkan Britania Raya dan Portugal (kecuali untuk koloni mereka, Timor Portugis). Pada masa itulah agama Kristen masuk ke Indonesia sebagai salah satu misi imperialisme lama yang dikenal sebagai 3G, yaitu Gold, Glory, and Gospel.[19] Belanda menguasai Indonesia sebagai koloni hingga Perang Dunia II, awalnya melalui VOC, dan kemudian langsung oleh pemerintah Belanda sejak awal abad ke-19.
Johannes van den Bosch, pencetus Cultuurstelsel.

Di bawah sistem Cultuurstelsel (Sistem Penanaman) pada abad ke-19, perkebunan besar dan penanaman paksa dilaksanakan di Jawa, akhirnya menghasilkan keuntungan bagi Belanda yang tidak dapat dihasilkan VOC. Pada masa pemerintahan kolonial yang lebih bebas setelah 1870, sistem ini dihapus. Setelah 1901 pihak Belanda memperkenalkan Kebijakan Beretika,[20] yang termasuk reformasi politik yang terbatas dan investasi yang lebih besar di Hindia-Belanda.

Pada masa Perang Dunia II, sewaktu Belanda dijajah oleh Jerman, Jepang menguasai Indonesia. Setelah mendapatkan Indonesia pada tahun 1942, Jepang melihat bahwa para pejuang Indonesia merupakan rekan perdagangan yang kooperatif dan bersedia mengerahkan prajurit bila diperlukan. Soekarno, Mohammad Hatta, KH. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan oleh Kaisar Jepang pada tahun 1943.
Soekarno, presiden pertama Indonesia.

Pada Maret 1945 Jepang membentuk sebuah komite untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah perang Pasifik berakhir pada tahun 1945, di bawah tekanan organisasi pemuda, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, tiga pendiri bangsa yakni Soekarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir masing-masing menjabat sebagai presiden, wakil presiden, dan perdana menteri. Dalam usaha untuk menguasai kembali Indonesia, Belanda mengirimkan pasukan mereka.

Usaha-usaha berdarah untuk meredam pergerakan kemerdekaan ini kemudian dikenal oleh orang Belanda sebagai 'aksi kepolisian' (Politionele Actie), atau dikenal oleh orang Indonesia sebagai Agresi Militer.[21] Belanda akhirnya menerima hak Indonesia untuk merdeka pada 27 Desember 1949 sebagai negara federal yang disebut Republik Indonesia Serikat setelah mendapat tekanan yang kuat dari kalangan internasional, terutama Amerika Serikat. Mosi Integral Natsir pada tanggal 17 Agustus 1950, menyerukan kembalinya negara kesatuan Republik Indonesia dan membubarkan Republik Indonesia Serikat. Soekarno kembali menjadi presiden dengan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden dan Mohammad Natsir sebagai perdana menteri.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, pemerintahan Soekarno mulai mengikuti sekaligus merintis gerakan non-blok pada awalnya, kemudian menjadi lebih dekat dengan blok sosialis, misalnya Republik Rakyat Cina dan Yugoslavia. Tahun 1960-an menjadi saksi terjadinya konfrontasi militer terhadap negara tetangga, Malaysia ("Konfrontasi"),[22] dan ketidakpuasan terhadap kesulitan ekonomi yang semakin besar. Selanjutnya pada tahun 1965 meletus kejadian G30S yang menyebabkan kematian 6 orang jenderal dan sejumlah perwira menengah lainnya. Muncul kekuatan baru yang menyebut dirinya Orde Baru yang segera menuduh Partai Komunis Indonesia sebagai otak di belakang kejadian ini dan bermaksud menggulingkan pemerintahan yang sah serta mengganti ideologi nasional menjadi berdasarkan paham sosialis-komunis. Tuduhan ini sekaligus dijadikan alasan untuk menggantikan pemerintahan lama di bawah Presiden Soekarno.
Hatta, Sukarno, dan Sjahrir, tiga pendiri Indonesia.

Jenderal Soeharto menjadi presiden pada tahun 1967 dengan alasan untuk mengamankan negara dari ancaman komunisme. Sementara itu kondisi fisik Soekarno sendiri semakin melemah. Setelah Soeharto berkuasa, ratusan ribu warga Indonesia yang dicurigai terlibat pihak komunis dibunuh, sementara masih banyak lagi warga Indonesia yang sedang berada di luar negeri, tidak berani kembali ke tanah air, dan akhirnya dicabut kewarganegaraannya. Tiga puluh dua tahun masa kekuasaan Soeharto dinamakan Orde Baru, sementara masa pemerintahan Soekarno disebut Orde Lama.

Soeharto menerapkan ekonomi neoliberal dan berhasil mendatangkan investasi luar negeri yang besar untuk masuk ke Indonesia dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar, meski tidak merata. Pada awal rezim Orde Baru kebijakan ekomomi Indonesia disusun oleh sekelompok ekonom lulusan Departemen Ekonomi Universitas California, Berkeley, yang dipanggil "Mafia Berkeley".[23] Namun, Soeharto menambah kekayaannya dan keluarganya melalui praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang meluas dan dia akhirnya dipaksa turun dari jabatannya setelah aksi demonstrasi besar-besaran dan kondisi ekonomi negara yang memburuk pada tahun 1998.

Dari 1998 hingga 2001, Indonesia mempunyai tiga presiden: Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, Abdurrahman Wahid dan Megawati Sukarnoputri. Pada tahun 2004 pemilu satu hari terbesar di dunia[24] diadakan dan dimenangkan oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Indonesia kini sedang mengalami masalah-masalah ekonomi, politik dan pertikaian bernuansa agama di dalam negeri, dan beberapa daerah berusaha untuk mendapatkan kemerdekaan, terutama Papua. Timor Timur akhirnya resmi memisahkan diri pada tahun 1999 setelah 24 tahun bersatu dengan Indonesia dan 3 tahun di bawah administrasi PBB menjadi negara Timor Leste.

Pada Desember 2004 dan Maret 2005, Aceh dan Nias dilanda dua gempa bumi besar yang totalnya menewaskan ratusan ribu jiwa. (Lihat Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dan Gempa bumi Sumatra Maret 2005.) Kejadian ini disusul oleh gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran dan sekitarnya, serta banjir lumpur di Sidoarjo pada 2006 yang tidak kunjung terpecahkan.

Politik dan pemerintahan

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Indonesia
Gedung MPR-DPR

Istana Negara, bagian dari Istana Kepresidenan Jakarta.

Indonesia menjalankan pemerintahan republik presidensial multipartai yang demokratis. Seperti juga di negara-negara demokrasi lainnya, sistem politik di Indonesia didasarkan pada Trias Politika yaitu kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kekuasaan legislatif dipegang oleh sebuah lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

MPR pernah menjadi lembaga tertinggi negara unikameral, namun setelah amandemen ke-4 MPR bukanlah lembaga tertinggi lagi, dan komposisi keanggotaannya juga berubah. MPR setelah amandemen UUD 1945, yaitu sejak 2004 menjelma menjadi lembaga bikameral yang terdiri dari 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang merupakan wakil rakyat melalui Partai Politik, ditambah dengan 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang merupakan wakil provinsi dari jalur independen.[25] Anggota DPR dan DPD dipilih melalui pemilu dan dilantik untuk masa jabatan lima tahun. Sebelumnya, anggota MPR adalah seluruh anggota DPR ditambah utusan golongan dan TNI/Polri. MPR saat ini diketuai oleh Taufiq Kiemas. DPR saat ini diketuai oleh Marzuki Alie, sedangkan DPD saat ini diketuai oleh Irman Gusman.

Lembaga eksekutif berpusat pada presiden, wakil presiden, dan kabinet. Kabinet di Indonesia adalah Kabinet Presidensial sehingga para menteri bertanggung jawab kepada presiden dan tidak mewakili partai politik yang ada di parlemen. Meskipun demikian, Presiden saat ini yakni Susilo Bambang Yudhoyono yang diusung oleh Partai Demokrat juga menunjuk sejumlah pemimpin Partai Politik untuk duduk di kabinetnya. Tujuannya untuk menjaga stabilitas pemerintahan mengingat kuatnya posisi lembaga legislatif di Indonesia. Namun pos-pos penting dan strategis umumnya diisi oleh menteri tanpa portofolio partai (berasal dari seseorang yang dianggap ahli dalam bidangnya).

Lembaga Yudikatif sejak masa reformasi dan adanya amandemen UUD 1945 dijalankan oleh Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, dan Mahkamah Konstitusi, termasuk pengaturan administrasi para hakim. Meskipun demikian keberadaan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia tetap dipertahankan.

Pembagian administratif
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Provinsi Indonesia

Indonesia provinces blank map.svg
Aceh
Sumatera
Utara
Sumatera
Barat
Riau
Kep.
Riau
Kep. Bangka
Belitung
Jambi
Sumatera
Selatan
Bengkulu
Lampung
Banten
DKI Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
DI Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan
Barat
Kalimantan
Tengah
Kalimantan
Timur
Kalimantan
Selatan
Sulawesi
Utara
Maluku
Utara
Sulawesi
Tengah
Gorontalo
Sulawesi
Barat
Sulawesi
Selatan
Sulawesi
Tenggara
Maluku
Papua
Barat
Papua

Indonesia saat ini terdiri dari 33 provinsi, lima di antaranya memiliki status yang berbeda. Provinsi dibagi menjadi 399 kabupaten dan 98 kota yang dibagi lagi menjadi kecamatan dan lagi menjadi kelurahan, desa, gampong, kampung, nagari, pekon, atau istilah lain yang diakomodasi oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Tiap provinsi memiliki DPRD Provinsi dan gubernur; sementara kabupaten memiliki DPRD Kabupaten dan bupati; kemudian kota memiliki DPRD Kota dan walikota; semuanya dipilih langsung oleh rakyat melalui Pemilu dan Pilkada. Bagaimanapun di Jakarta tidak terdapat DPR Kabupaten atau Kota, karena Kabupaten Administrasi dan Kota Administrasi di Jakarta bukanlah daerah otonom.

Provinsi Aceh, Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua Barat, dan Papua memiliki hak istimewa legislatur yang lebih besar dan tingkat otonomi yang lebih tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Contohnya, Aceh berhak membentuk sistem legal sendiri; pada tahun 2003, Aceh mulai menetapkan hukum Syariah.[26] Yogyakarta mendapatkan status Daerah Istimewa sebagai pengakuan terhadap peran penting Yogyakarta dalam mendukung Indonesia selama Revolusi.[27] Provinsi Papua, sebelumnya disebut Irian Jaya, mendapat status otonomi khusus tahun 2001.[28] DKI Jakarta, adalah daerah khusus ibukota negara. Timor Portugis digabungkan ke dalam wilayah Indonesia dan menjadi provinsi Timor Timur pada 1979–1999, yang kemudian memisahkan diri melalui referendum menjadi Negara Timor Leste.[29]

Provinsi di Indonesia dan ibukotanya

Sumatera

* Aceh - Banda Aceh
* Sumatera Utara - Medan
* Sumatera Barat - Padang
* Riau - Pekanbaru
* Kepulauan Riau - Tanjung Pinang
* Jambi - Jambi
* Sumatera Selatan - Palembang
* Kepulauan Bangka Belitung - Pangkal Pinang
* Bengkulu - Bengkulu
* Lampung - Bandar Lampung

Jawa

* Daerah Khusus Ibukota Jakarta
* Banten - Serang
* Jawa Barat - Bandung
* Jawa Tengah - Semarang
* Daerah Istimewa Yogyakarta - Yogyakarta
* Jawa Timur - Surabaya

Kepulauan Sunda Kecil

* Bali - Denpasar
* Nusa Tenggara Barat - Mataram
* Nusa Tenggara Timur - Kupang



Kalimantan

* Kalimantan Barat - Pontianak
* Kalimantan Tengah - Palangka Raya
* Kalimantan Selatan - Banjarmasin
* Kalimantan Timur - Samarinda

Sulawesi

* Sulawesi Utara - Manado
* Gorontalo - Gorontalo
* Sulawesi Tengah - Palu
* Sulawesi Barat - Mamuju
* Sulawesi Selatan - Makassar
* Sulawesi Tenggara - Kendari

Kepulauan Maluku

* Maluku - Ambon
* Maluku Utara - Sofifi

Papua bagian barat

* Papua Barat - Manokwari
* Papua - Jayapura

Geografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Indonesia

Lihat pula: Peta Asia dan Jumlah pulau di Indonesia
Air terjun Madakaripura di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Lumbang, Probolinggo, Jawa Timur.

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara[30] yang memiliki 17.504 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni[31], yang menyebar disekitar khatulistiwa, yang memberikan cuaca tropis. Posisi Indonesia terletak pada koordinat 6°LU - 11°08'LS dan dari 95°'BB - 141°45'BT serta terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia/Oseania.

Wilayah Indonesia terbentang sepanjang 3.977 mil di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia adalah 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km². Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, dimana setengah populasi Indonesia bermukim. Indonesia terdiri dari 5 pulau besar, yaitu: Jawa dengan luas 132.107 km², Sumatera dengan luas 473.606 km², Kalimantan dengan luas 539.460 km², Sulawesi dengan luas 189.216 km², dan Papua dengan luas 421.981 km². Batas wilayah Indonesia diukur dari kepulauan dengan menggunakan territorial laut: 12 mil laut serta zona ekonomi eksklusif: 200 mil laut,[32] searah penjuru mata angin, yaitu:
Utara Negara Malaysia dengan perbatasan sepanjang 1.782 km[31], Singapura, Filipina, dan Laut Cina Selatan
Selatan Negara Australia, Timor Leste, dan Samudra Indonesia
Barat Samudra Indonesia
Timur Negara Papua Nugini dengan perbatasan sepanjang 820 km[31], Timor Leste, dan Samudra Pasifik
[sunting] Sumber daya alam

Sumber daya alam Indonesia berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, dan perak dengan pembagian lahan terdiri dari tanah pertanian sebesar 10%, perkebunan sebesar 7%, padang rumput sebesar 7%, hutan dan daerah berhutan sebesar 62%, dan lainnya sebesar 14% dengan lahan irigasi seluas 45.970 km[33]
[sunting] Pendidikan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pendidikan di Indonesia

Sesuai dengan konstitusi yang berlaku, yaitu berdasarkan UUD 1945 pasal 31 ayat 4 dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pemerintah Indonesia baik pusat maupun daerah mesti mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN dan APBD diluar gaji pendidik dan biaya kedinasan. Namun pada tahun 2007 alokasi yang disediakan tersebut baru sekitar 17.2 %, jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Malaysia, Thailand dan Filipina yang telah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan lebih dari 28 %[34].

Ekonomi

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Indonesia
Peta yang menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto per kapita provinsi-provinsi Indonesia pada tahun 2008 atas harga berlaku. PDRB per kapita provinsi Kalimantan Timur mencapai Rp.100 juta manakala PDRB per kapita Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur kurang dari Rp.5 juta.
██ Lebih dari Rp.100 juta ██ Rp.50 juta ++ - Rp.100 juta ██ Rp.40 juta ++ - Rp.50 juta ██ Rp.30 juta ++ - Rp.40 juta ██ Rp.20 juta ++ - Rp.30 juta ██ Rp.10 juta ++ - Rp.20 juta ██ Rp.5 juta ++ - Rp.10 juta ██ Kurang dari Rp.5 juta

Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah.

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.[35]
Uang rupiah.

Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.[35] Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981.[35] Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,[35] selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997[36] Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,[37] yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.
Gedung pusat Bank Indonesia.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut.[38] Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam memengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%.[39][40] Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan, dan terdapat 49,0% masyarakat yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$ 2 per hari.[41]

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, dan karet.[42] Sektor jasa adalah penyumbang terbesar PDB, yang mencapai 45,3% untuk PDB 2005. Sedangkan sektor industri menyumbang 40,7%, dan sektor pertanian menyumbang 14,0%.[43] Meskipun demikian, sektor pertanian mempekerjakan lebih banyak orang daripada sektor-sektor lainnya, yaitu 44,3% dari 95 juta orang tenaga kerja. Sektor jasa mempekerjakan 36,9%, dan sisanya sektor industri sebesar 18,8%.[44]

Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara jirannya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.[45]


Peringkat internasional

Organisasi Nama Survey Peringkat
Heritage Foundation/The Wall Street Journal Indeks Kebebasan Ekonomi 110 dari 157[46]
The Economist Indeks Kualitas Hidup 71 dari 111[47]
Reporters Without Borders Indeks Kebebasan Pers 103 dari 168[48]
Transparency International Indeks Persepsi Korupsi 143 dari 179[49]
United Nations Development Programme Indeks Pembangunan Manusia 108 dari 177[50]
Forum Ekonomi Dunia Laporan Daya Saing Global 51 dari 122[51]

Demografi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Indonesia
Kepadatan penduduk Indonesia menurut Sensus 2010

Menurut sensus penduduk 2000, Indonesia memiliki populasi sekitar 206 juta,[52] dan diperkirakan pada tahun 2006 berpenduduk 222 juta.[6] 130 juta (lebih dari 50%) tinggal di Pulau Jawa yang merupakan pulau berpenduduk terbanyak sekaligus pulau dimana ibukota Jakarta berada.[53] Sebagian besar (95%) penduduk Indonesia adalah Bangsa Austronesia, dan terdapat juga kelompok-kelompok suku Melanesia, Polinesia, dan Mikronesia terutama di Indonesia bagian Timur. Banyak penduduk Indonesia yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari kelompok suku yang lebih spesifik, yang dibagi menurut bahasa dan asal daerah, misalnya Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan Minangkabau.

Selain itu juga ada penduduk pendatang yang jumlahnya minoritas di antaranya adalah etnis Tionghoa, India, dan Arab. Mereka sudah lama datang ke Nusantara melalui perdagangan sejak abad ke 8 M dan menetap menjadi bagian dari Nusantara. Di Indonesia terdapat sekitar 4 juta populasi etnis Tionghoa.[54] Angka ini berbeda-beda karena hanya pada tahun 1930 dan 2000 pemerintah melakukan sensus dengan menggolong-golongkan masyarakat Indonesia ke dalam suku bangsa dan keturunannya.

Islam adalah agama mayoritas yang dipeluk oleh sekitar 85,2% penduduk Indonesia, yang menjadikan Indonesia negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia.[42] Sisanya beragama Protestan (8,9%), Katolik (3%), Hindu (1,8%), Buddha (0,8%), dan lain-lain (0,3%). Selain agama-agama tersebut, pemerintah Indonesia juga secara resmi mengakui Konghucu.[55]

Kebanyakan penduduk Indonesia bertutur dalam bahasa daerah sebagai bahasa ibu, namun bahasa resmi negara, yaitu bahasa Indonesia, diajarkan di seluruh sekolah-sekolah di negara ini dan dikuasai oleh hampir seluruh penduduk Indonesia.
l • b • s
Kota-kota besar di Indonesia
Kota Provinsi Populasi Kota Provinsi Populasi
1 Jakarta DKI Jakarta 9.588.198 Indonesia
Indonesia 7 Depok Jawa Barat 1.751.696
2 Surabaya Jawa Timur 2.765.908 8 Semarang Jawa Tengah 1.553.778
3 Bandung Jawa Barat 2.417.584 9 Palembang Sumatera Selatan 1.452.840
4 Bekasi Jawa Barat 2.336.489 10 Makassar Sulawesi Selatan 1.339.374
5 Medan Sumatera Utara 2.109.339 11 Tangerang Selatan Banten 1.303.569
6 Tangerang Banten 1.797.715 12 Bogor Jawa Barat 952.406
[sunting] Kebudayaan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Indonesia
[sunting] Pertunjukan
Wayang kulit warisan budaya Jawa.

Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.

Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain.
[sunting] Busana
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar busana daerah Indonesia
Seorang gadis Palembang tengah mengenakan Songket, salah satu busana tradisional Indonesia.

Di bidang busana warisan budaya yang terkenal di seluruh dunia adalah kerajinan batik. Beberapa daerah yang terkenal akan industri batik meliputi Yogyakarta, Surakarta, Cirebon, Pandeglang, Garut, Tasikmalaya dan juga Pekalongan. Kerajinan batik ini pun diklaim oleh negara lain dengan industri batiknya.[56] Busana asli Indonesia dari Sabang sampai Merauke lainnya dapat dikenali dari ciri-cirinya yang dikenakan di setiap daerah antara lain baju kurung dengan songketnya dari Sumatera Barat (Minangkabau), kain ulos dari Sumatra Utara (Batak), busana kebaya, busana khas Dayak di Kalimantan, baju bodo dari Sulawesi Selatan, busana berkoteka dari Papua dan sebagainya.
[sunting] Arsitektur
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Arsitektur Indonesia
Lukisan Candi Prambanan yang berasal dari masa pemerintahan Raffles.

Arsitektur Indonesia mencerminkan keanekaragaman budaya, sejarah, dan geografi yang membentuk Indonesia seutuhnya. Kaum penyerang, penjajah, penyebar agama, pedagang, dan saudagar membawa perubahan budaya dengan memberi dampak pada gaya dan teknik bangunan. Tradisionalnya, pengaruh arsitektur asing yang paling kuat adalah dari India. Tetapi, Cina, Arab, dan sejak abad ke-19 pengaruh Eropa menjadi cukup dominan.

Ciri khas arsitektur Indonesia kuno masih dapat dilihat melalui rumah-rumah adat dan/atau istana-istana kerajaan dari tiap-tiap provinsi. Taman Mini Indonesia Indah, salah satu objek wisata di Jakarta yang menjadi miniatur Indonesia, menampilkan keanekaragaman arsitektur Indonesia itu. Beberapa bangunan khas Indonesia misalnya Rumah Gadang, Monumen Nasional, dan Bangunan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan di Institut Teknologi Bandung.
[sunting] Olahraga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Olahraga Indonesia
Maria Kristin Yulianti (merah), peraih medali perunggu pada Olimpiade Beijing 2008.

Olahraga yang paling populer di Indonesia adalah bulu tangkis dan sepak bola; Liga Super Indonesia adalah liga klub sepak bola utama di Indonesia. Olahraga tradisional termasuk sepak takraw dan karapan sapi di Madura. Di wilayah dengan sejarah perang antar suku, kontes pertarungan diadakan, seperti caci di Flores, dan pasola di Sumba. Pencak silat adalah seni bela diri yang unik yang berasal dari wilayah Indonesia. Seni bela diri ini kadang-kadang ditampilkan pada acara-acara pertunjukkan yang biasanya diikuti dengan musik tradisional Indonesia berupa gamelan dan seni musik tradisional lainnya sesuai dengan daerah asalnya. Olahraga di Indonesia biasanya berorientasi pada pria dan olahraga spektator sering berhubungan dengan judi yang ilegal di Indonesia.[57]

Di ajang kompetisi multi cabang, prestasi atlet-atlet Indonesia tidak terlalu mengesankan. Di Olimpiade, prestasi terbaik Indonesia diraih pada saat Olimpiade 1992, dimana Indonesia menduduki peringkat 24 dengan meraih 2 emas 2 perak dan 1 perunggu. Pada era 1960 hingga 2000, Indonesia merajai bulu tangkis. Atlet-atlet putra Indonesia seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, dan Rexy Mainaky merajai kejuaraan-kejuaraan dunia. Rudi Hartono yang dianggap sebagai maestro bulu tangkis dunia, menjadi juara All England terbanyak sepanjang sejarah. Selain bulu tangkis, atlet-atlet tinju Indonesia juga mampu meraih gelar juara dunia, seperti Elyas Pical, Nico Thomas[58], dan Chris John.[59]
[sunting] Seni musik
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Musik Indonesia

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis di daerah Tugu, Jakarta,[60] yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Seperangkat gamelan

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia 'dicuri' oleh negara lain[61] untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Alat musik tradisional Indonesia antara lain meliputi:

* Angklung
* Bende
* Calung
* Dermenan
* Gamelan
* Gandang Tabuik
* Gendang Bali



* Gondang Batak
* Gong Kemada
* Gong Lambus
* Jidor
* Kecapi Suling
* Kulcapi Batak
* Kendang Jawa



* Kenong
* Kulintang
* Rebab
* Rebana
* Saluang
* Saron
* Sasando



* Serunai
* Seurune Kale
* Suling Lembang
* Sulim Batak
* Suling Sunda
* Talempong
* Tanggetong
* Tifa, dan sebagainya

Boga
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masakan Indonesia
Beberapa makanan Indonesia: soto ayam, sate kerang, telor pindang, perkedel dan es teh manis.

Masakan Indonesia bervariasi bergantung pada wilayahnya.[62] Nasi adalah makanan pokok dan dihidangkan dengan lauk daging dan sayur. Bumbu (terutama cabai), santan, ikan, dan ayam adalah bahan yang penting.[63]

Sepanjang sejarah, Indonesia telah menjadi tempat perdagangan antara dua benua. Ini menyebabkan terbawanya banyak bumbu, bahan makanan dan teknik memasak dari bangsa Melayu sendiri, India, Timur tengah, Tionghoa, dan Eropa. Semua ini bercampur dengan ciri khas makanan Indonesia tradisional, menghasilkan banyak keanekaragaman yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan bangsa Spanyol dan Portugis, telah mendahului bangsa Belanda dengan membawa banyak produk dari dunia baru ke Indonesia.

Penganan kecil semisal kue-kue banyak dijual di pasar tradisional. Kue-kue tersebut biasanya berbahan dasar beras, ketan, ubi kayu, ubi jalar, terigu, atau sagu. Nasi rames yang berisi nasi beserta lauk atau sayur pilihan dijual di tempat-tempat umum, seperti stasiun kereta api, pasar, dan terminal bus. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya dikenal nasi kucing sebagai nasi rames yang berukuran sangat minimalis dengan harga murah, nasi kucing sering dijual di atas angkringan, sejenis warung kaki lima.

Terdapat pula aneka makanan yang dijual oleh para pedagang keliling menggunakan gerobak atau tanggungan. Pedagang keliling ini menyajikan mie ayam, mi bakso, soto, siomay, roti burger, nasi goreng, nasi uduk, dan lain-lain.
[sunting] Perfilman
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perfilman Indonesia
Poster film Tjoet Nja' Dhien (1988), film tentang pahlawan nasional Indonesia asal Aceh.

Film pertama yang diproduksi pertama kalinya di nusantara adalah film bisu tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp pada zaman Hindia Belanda. Film ini dibuat dengan aktor lokal oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember, 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah itu, lebih dari 2.200 film diproduksi. Di masa awal kemerdekaan, sineas-sineas Indonesia belum banyak bermunculan. Di antara sineas yang ada, Usmar Ismail merupakan salah satu sutradara paling produktif, dengan film pertamanya Harta Karun (1949). Namun kemudian film pertama yang secara resmi diakui sebagai film pertama Indonesia sebagai negara berkedaulatan adalah film Darah dan Doa (1950) yang disutradarai Usmar Ismail. Dekade 1970 hingga 2000-an, Arizal muncul sebagai sutradara film paling produktif. Tak kurang dari 52 buah film dan 8 judul sinetron dengan 1.196 episode telah dihasilkannya.

Popularitas industri film Indonesia memuncak pada tahun 1980-an dan mendominasi bioskop di Indonesia,[64] meskipun kepopulerannya berkurang pada awal tahun 1990-an. Antara tahun 2000 hingga 2005, jumlah film Indonesia yang dirilis setiap tahun meningkat.[64] Film Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata menjadi film dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia saat ini.

Kesusastraan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sastra Indonesia

Bukti tulisan tertua di Indonesia adalah berbagai prasasti berbahasa Sanskerta pada abad ke-5 Masehi. Figur penting dalam sastra modern Indonesia termasuk: pengarang Belanda Multatuli yang mengkritik perlakuan Belanda terhadap Indonesia selama zaman penjajahan Belanda; Muhammad Yamin dan Hamka yang merupakan penulis dan politikus pra-kemerdekaan;[65] dan Pramoedya Ananta Toer, pembuat novel Indonesia yang paling terkenal.[66] Selain novel, sastra tulis Indonesia juga berupa puisi, pantun, dan sajak. Chairil Anwar merupakan penulis puisi Indonesia yang paling ternama. Banyak orang Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat, yang membantu mendefinisikan dan memelihara identitas budaya mereka.[67] Kebebasan pers di Indonesia meningkat setelah berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto. Stasiun televisi termasuk sepuluh stasiun televisi swasta nasional, dan jaringan daerah yang bersaing dengan stasiun televisi negeri TVRI. Stasiun radio swasta menyiarkan berita mereka dan program penyiaran asing. Dilaporkan terdapat 20 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2007.[68] Penggunaan internet terbatas pada minoritas populasi, diperkirakan sekitar 8.5%.
[sunting] Lingkungan hidup
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Flora Indonesia dan Fauna Indonesia
Rafflesia arnoldii bunga terbesar di dunia, diameternya mencapai 1,3 meter.
Komodo, hewan reptil langka khas dari Nusa Tenggara.

Wilayah Indonesia memiliki keanekaragaman makhluk hidup yang tinggi sehingga oleh beberapa pihak wilayah ekologi Indonesia disebut dengan istilah "Mega biodiversity" atau "keanekaragaman mahluk hidup yang tinggi"[69][70] umumnya dikenal sebagai Indomalaya atau Malesia bedasarkan penelitian bahwa 10 persen tumbuhan, 12 persen mamalia, 16 persen reptil, 17 persen burung, 25 persen ikan yang ada di dunia hidup di Indonesia, padahal luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas Bumi. Kekayaan makhluk hidup Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah Brasil dan Republik Demokratik Kongo. [71]

Meskipun demikian, Guinness World Records pada 2008 pernah mencatat rekor Indonesia sebagai negara yang paling kencang laju kerusakan hutannya di dunia. Setiap tahun Indonesia kehilangan hutan seluas 1,8 juta hektar. Kerusakan yang terjadi di daerah hulu (hutan) juga turut merusak kawasan di daerah hilir (pesisir).[72] Menurut catatan Down The Earth, proyek Asian Development Bank (ADB) di sektor kelautan Indonesia telah memicu terjadinya alih fungsi secara besar-besaran hutan bakau menjadi kawasan pertambakan. Padahal hutan bakau, selain berfungsi melindungi pantai dari abrasi, merupakan habitat yang baik bagi berbagai jenis ikan. Kehancuran hutan bakau tersebut mengakibatkan nelayan harus mencari ikan dengan jarak semakin jauh dan menambah biaya operasional mereka dalam mencari ikan. Selain itu, hancurnya hutan bakau juga mengakibatkan semakin rentannya kawasan pesisir Indonesia terhadap terjangan air pasang laut dan banjir, terlebih di musim hujan.[73]